Soeharto Center, Berdiri Lalu Mati Suri

Laju Berita – Pengamat politik dari LIPI Dewi Fortuna pernah menyatakan mantan kepala negara mendirikan lembaga kajian belum menjadi tradisi seperti halnya di Amerika Serikat. Di negeri Abang Sam itu kita bisa menyebut Gerald Ford yang hingga sekarang identik dengan Ford Foundation. Ada juga Carter Center, Clinton Center, atau Obama Foundation.

Tapi tidak demikian halnya dengan Sukarno dan Soeharto. Karena setelah lengser beliau dikurung di Istana Bogor, dan Pak Harto terkurung di Cendana, kata Dewi kepada pers saat peresmian The Habibie Center, November 1999.

Tentu pendapat Dewi tersebut kini perlu dikoreksi. Sebab ide-ide Sukarno sejak beberapa tahun lalu dibangkitkan dan dikaji lewat seminar-seminar dan penerbitan sejumlah buku oleh Megawati Institute. Salah satu visi lembaga yang didirikan salah satu putri Bung Karno itu adalah, Membumikan nilai-nilai Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi bangsa dalam berbagai dimensi kehidupan masyarakat Indonesia.

Sementara pengusaha Probosutedjo yang notabene adik tiri Soeharto sempat mendeklarasikan pendirian Soeharto Center pada 8 Juni 2011. Salah satu tujuan Probo mendirikan lembaga tersebut adalah memulihkan nama baik Soeharto semasa berkuasa. Sebab pasca-lengser pada Mei 1998, banyak pemberitaan miring soal kakaknya itu.

Kalau dikatakan KKN, bukti KKN-nya mana? Dikatakan punya simpanan triliun, ternyata nggak ada setelah diperiksa, ungkap Prabosutedjo menyebut salah satu contoh dalam konfrensi pers di Hotel Le Meridien.

Sementara Guru Besar Deakin University, Melbourne, Australia, Ismet Fanani dalam sarasehan acara tersebut menyebut salah satu tujuan adalah menggali pemikiran-pemikiran Soeharto tentang pembangunan Indonesia menuju bangsa yang lebih baik. Sarasehan juga untuk menentukan prioritas isu-isu pokok pemikiran Soeharto mengenai pembangunan yang akan dikaji lebih dalam dan luas dalam serial small workshop dan workshop nasional.

Nyatanya hingga kini, kiprah lembaga itu nyaris tak terdengar. Mati suri? Mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie yang pernah hadir dalam sarasehan menolak berkomentar. Ia menyarankan agar isu ini tidak ditanyakan kepada dirinya.

Dihubungi terpisah, peneliti CSIS Arya Fernandes malah mengaku tak pernah mendengar ada nama Soeharto Center. Hal itu mengindikasikan lembaga itu tak pernah benar-benar berkiprah. Sebab mendirikan sebuah lembaga kajian memang tak mudah, tak cuma butuh dana tapi juga kehadiran kaum intelektual yang mengenal dan dapat memahami pemikiran si tokoh agar fungsi lembaga itu tidak mati.

Jujur, saya malah baru dengar ada Soeharto Center. Soalnya peran dan hasil kajiannya apa juga tidak ada kok, jelas Arya

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*