SETUJUI REUNI 212, SEKARANG LEMPAR KE POLISI, MAU ADU DOMBA?

SETUJUI REUNI 212, SEKARANG LEMPAR KE POLISI, MAU ADU DOMBA?

SETUJUI REUNI 212, SEKARANG LEMPAR KE POLISI, MAU ADU DOMBA?

Panitia (acara reuni akbar) sudah bersurat ke kita sekitar seminggu yang lalu… Dari Dinas Pariwisata sudah meneruskan kepada Pak Gubernur (Anies Baswedan) dan Pak Gubernur sudah mengeluarkan disposisi, sudah disetujui hari ini…” ujar Kepala Unit Pengelola Teknis (UPT) Monumen Nasional ( Monas), Munjirin saat dihubungi Kompas.com, Rabu (29/11/2017). SUMBER

Awal saya melihat manusia bernama Anies menjadi gubernur, bukan gabener, saya cukup yakin akan satu hal. Keyakinan bahwa Anies ini ibarat bom waktu yang siap-siap mempermalukan dirinya sendiri, dengan cara-cara yang tidak benar. Rasanya untuk melakukan lawakan-lawakan yang tidak lucu, sudah menjadi kebiasaannya.

Bahkan blunder yang digunakan sekarang adalah mengorbankan para pendukungnya, orang-orang yang berperan besar dalam kemenangan mereka dalam Pilkada DKI waktu silam. Terlalu banyak bicara, itulah yang menjadi karakter mulut manis dari Anies Baswedan. Kebenaran muncul, bahwa seorang gubernur DKI sudah memberikan persetujuan mengenai penggunaan Monas oleh alumni 212. Orang yang hidup di dua dunia pemikiran yang jauh berbeda, tentu suatu saat akan menunjukkan dirinya keseleo lidah, atau keseleo kaki.

Ternyata mulut lebih cepat dari kaki, begitulah yang dialami Anies dalam keseleo lidahnya. Ia sudah memberikan persetujuan penggunaan Monas. Bahkan kepala Unit Pengelola Teknis Monas, Bapak Munjirin sudah mengatakan bahwa Anies sudah menyetujui acara reuni akbar ini. Alumni 212 berencana melakukan acara peringatan Maulid Nabi Muhamad SAW yang sekaligus menjadi ajang reuni akbar alumni 212.

Banyak informan yang mengatakan bahwa acara ini akan sepi pendatang. Namun saya cukup yakin, bahwa pendatang akan banyak, karena menunggangi acara Maulid Nabi. Saya cukup yakin, acara ini bisa ramai, bisa sampai 10 juta kira-kira. Hahaha. Omong kosong. Kerjasama yang kurang apik ini menjadi salah satu celah Anies bisa dianggap tukang tipu. Mereka yang terjebak di dalam birokrasi adalah mereka yang tidak mahir dalam mengakali birokrasi.

Aturan yang begitu banyak diikuti, akhirnya bingung dan tersesat, dialami oleh Anies Baswedan. Anies dan Sandi pun pada akhirnya harus tersesat di dalam rumitnya birokrasi. Sebenarnya birokrasi itu sederhana, namun yang membuat menjadi jelimet adalah kontrak-kontrak politik untuk mencapai kemenangan ini. Kontrak politik yang begitu banyak, membuat kedua pemimpin karbitan agama ini tersesat dan mulai ditekan dari berbagai arah.

Tekanan massa, politik, kontrak, janji-janji manis nan bau surga ini akhirnya harus mereka terima. Apa gunanya mendapatkan sebuah kemenangan, jika pada akhirnya orang-orang ini harus dikalahkan dari berbagai aspek? Buat apa menang satu, jika Tuhan pada akhirnya buang muka terhadap kemenangan tersebut? Pikirkan hal ini, hai badut-badut Jakarta.”Itu (izin reuni akbar 212 di Monas) dengan Pak polisi, bukan saya… Saya enggak mengurus itu, itu kewenangan polisi,” ujar Anies Baswedan, Gubernur, bukan Gabener DKI Jakarta.SUMBER

Anies mau tidak mau harus berkelit dan memunculkan inkonsistensinya. Inkonsistensi yang ditunjukkan sangatlah fatal. Biasanya, orang yang inkonsisten, tidak akan dengan jelas mempertontonkan inkonsistensi mereka di hadapan publik. Misalnya begini. Jika saya pernah bicara “saya pasti bayar utang”, kemudian saya katakan “saya akan bayar utang kalau saya sudah ada uang, dan seterusnya dan seterusnya..”, maka saya inkonsisten.

Namun bandingkan bagaimana inkonsistensi Anies. Ibarat mengatakan “kamu keren”, kemudian mengatakan “kamu jelek”, yang benar-benar bertolak belakang dengan apa yang pernah ia katakan sebelumnya. Rasanya tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa Anies sejatinya adalah manusia yang tidak bisa dipegang kata-katanya.

Bayangkan saja dari Jokowi menjadi si panglima berkuda unyu, dua sosok yang jauh berbeda, dengan segala karakternya. Satu orang mengabdi kepada rakyat, yang lain malah menjadikan rakyat sebagai keset kaki. Pendulum Anies terlalu ekstrim, mempertontonkan bahwa orang ini sangat memalukan. Saya heran, mengapa 58 persen warga Jakarta bisa memilih badut, ketimbang Ahok. Ya tidak apa-apa deh, asalkan seiman sudah cukup, pun dijanjikan surga nanti karena sudah pilih Anies Baswedan.

Inkonsistensi Anies dalam menggantungkan alumni 212 ini, saya yakin, kelak akan menjadi bumerang bagi dirinya. Namun belum tentu juga, karena menurut mereka asal seiman, ngibul pun tidak apa-apa”. Anies ternyata tukang tipu, bahkan ia berani menipu orang-orang yang berkontribusi besar untuk kemenangannya di Pilkada DKI. Atau mungkinkah inkonsistensi ini memang sengaja dirancang untuk mengadu domba antara Polisi dan laskar 212? Wallahualam.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*