Home » BERITA JOKOWI » SBY Dan Kisah Demo 411 & Demo 212

SBY Dan Kisah Demo 411 & Demo 212

sby1

LajuBerita – Demo 411 dan Demo 212, selalu diiringi dengan prolog Susilo Bambang Yudhoyono, hanya saja beda-nya di dalam prolog pertama, SBY menggunakan panggung Cikeas, sementara pada Prolog kedua, SBY menggunakan media “Rakyat Merdeka” sebuah harian milik Grup Jawa Pos. Prolog kedua, ini tidak seheboh pada prolog pertama, karena istilah “Lebaran Kuda” menjadi tone serangan negatif ke kubu SBY, dan membuat SBY menjadi blunder bahkan blunder ini menyebabkan publik tau bahwa SBY bermain dalam aksi Demo 411, walaupun hal ini dibantah oleh SBY dan juga dibantah oleh Cagub Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putera sulung SBY yang mencalonkan diri jadi Gubernur DKI Jakarta.

Pada prolog kedua, SBY menyampaikan pendapatnya dalam media tulisan, dan kurang menggema bunyinya namun dalam tulisan SBY itu terdapat hal menarik bila diambil banyak pemaknaan, dimana tulisan disesuaikan dengan karakter SBY, yang “Selalu Berkata Lain Dari Apa Yang Diucapkan”. Dari situlah kita bisa membaca giringan situasi pada Demo 212. Dua Prolog ini menjadi jelas, SBY selalu menempatkan dirinya menjadi “playmaker” dalam dua gerakan yang menjadi perhatian politik terbesar sepanjang tahun 2016, yaitu demo yang digerakkan dengan menekan opini massa untuk menahan Ahok. Dalam kasus ini, hanya SBY-lah dari seluruh Ketum Partai Politik yang selalu menyatakan statemen resmi-nya di dua gerakan, 411 dan 211 sementara Ketum Partai-Partai lain sama sekali tidak menyampaikan pendapatnya.

Juga menjadi terang benderang kemudian SBY mendapat lampu sorot publik, ketika dia sama sekali tidak diundang oleh Presiden Jokowi dalam acara politik “Makan Siang” dimana semua tokoh partai partai besar diundang Presiden, hanya SBY yang sama sekali tidak dipanggil dan diajak makan bersama. Dalam budaya orang Jawa, apalagi dalam panggung kekuasaan, orang yang dilemparkan dari luar sistem sebelum terjadi prahara, bisa ditebak orang itulah yang berbuat neko-neko terhadap penguasa, cara budaya halus ini disampaikan secara tersirat oleh Presiden Jokowi kepada SBY “Bahwa Kamu Sudah Berada Di Luar Sistem Kami”, disini SBY sudah dikucilkan dalam komunikasi politik.

Apakah pantas SBY melakukan penilaian ini dan memperkuat penggiringan tentang Ahok, padahal kasus Ahok sudah ditangani pihak Kepolisian. Sudah dijadikan kasus tersangka, sementara demo 212 adalah bentuk tekanan massa yang kuat dimana sesungguhnya Pengadilan tidak boleh ditekan dalam bentuk apapun, penggiringan opini dan tekanan massa di jalanan, bertujuan pada satu soal “Menahan Ahok” dalam titik ini SBY tidak “Bebas Nilai”. Karena anaknya adalah rival Ahok. Saat ini Ahok memiliki kekuatan cenderung keterpilihan (Political Prefference) tertinggi, dan satu satunya cara ampuh menghentikan laju Ahok adalah dengan menjegal sebelum bertanding. Dan inilah peluang paling besar dalam menjegal Ahok. Dan dari ukuran mana SBY melakukan penilaian bahwa “Rakyat tidak percaya pada Pemerintah”.

Pangsa Pasar Politik dalam kasus Ahok, adalah mereka yang memang sejak lama membenci Jokowi, mereka yang disebut dalam bahasa Netizen sebagai “Haters” kalau ini dijadikan ukuran tentunya preferensi ketidakpercayaan pada Pemerintah adalah 100%, dan lagi SBY mengeritik Presiden tidak menemui pemimpin demo. Jadi pertanyaan besar “Sejak kapan SBY juga menemui pemimpin demo”, dan Presiden Jokowi sudah tau, siapa dalang demo dan bagaimana arah demo, jadi buat apa dia menemui orang-orang yang bukan decision maker, Presiden Jokowi juga punya taktik sendiri dalam strategi “Siapakah Ular Yang Bermain?” dan ini bisa dilihat dari “Politik Makan Siang”, dalam Panggung Teras Makan Siang, Jokowi menunjukkan pada Publik “UIar Yang Bermain” tidaklah diundang ke Istana.

Dengan lagak lagu-nya SBY berkata dalam tulisan itu bahwa dirinya menutup diri. Padahal memang SBY tidak diundang ke Istana, padahal anak buahnya sudah meminta minta agar Presiden Jokowi mengundang juga SBY. Tapi karena memang SBY tidak digubris, dengan aneh SBY menyebut dirinya menutup pintu komunikasi, padahal memang dia tidak diajak bicara dan ditutup pintu komunikasinya sebelum jelas “ada hubungan apa SBY dengan para Pimpinan Demo 411 dan 212. Dalam tulisan itu SBY juga menyebutkan adanya martir. Jadi pertanyaan “Apakah memang benar akan ada martir dalam kejadian 212?” kalau ini benar terjadi bagaimana hubungan tulisan SBY dengan realitas di lapangan.

Perlu juga dibuka hubungan antara Majelis Dzikir Nurussalam dengan Jaringan Kekuasaan SBY, karena “Pidato Lebaran Kuda” adalah Pidato yang sesungguhnya adalah bentuk kepanikan SBY ketika mendapat bocoran Laporan Intelijen bahwa Majelis Dzikir Nurussalam memiliki peran besar dalam kontribusi demo 411. Majelis Dzikir SBY Nurussalam punya anggota sekitar 5 juta orang di tahun 2011 dan menyebar di 33 Provinsi di Indonesia, hal ini bisa disibak dalam sebuah skripsi berjudul “Peran Majelis Dzikir SBY Nurussalam Dalam Mendukung Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono”

Dalam skripsi itu dijelaskan seluruh aliran pengaruh politik SBY dan ternyata sama dengan kekuatan penggerak demo 411 dan 212. Kekuatan kekuatan inilah yang sekarang digalang dan secara terang terangan juga mendukung AHY. Dalam tiap kampanye faktor segregasi suku dan agama juga dipersoalkan dalam gerakan dukung AHY ini. Jadi sebenarnya kekuatan demo 411 dan 212 tak lepas dari dukungan politik AHY, banyak sekali kemudian setelah aksi demo kemudian diiringi dengan statemen media dukungan para penggerak demo kepada AHY, hal ini untuk mempengaruhi publik, dimana kekuatan demo itu untuk menunjukkan kekuatan mereka dalam ujuk kekuatan massa dan siapa yang mereka dukung.

Presiden Jokowi dan Partai Partai Pendukung Presiden, serta juga Partai Partai pendukung Ahok, membuka lebar lebar persoalan ini, kelompok Jokowi saat ini hanya memantau apakah pergerakan ini membahayakan kedudukan Presiden, sementara barisan Pendukung Ahok seolah olah terkunci dalam permainan isu agama yang sudah berhasil dikembangkan oleh satu caption Buni Yani juga ditambah blunder timses Ahok mengeluarkan Nusron Wahid yang merasa jumawa tapi justru menjadi titik tembak kekuatan Ahok, dari tulisan Si Buni Yani (SBY) menjadi bentuk tekanan massa. Perlu diingat jargon “Penistaan” adalah bukan kata biasa yang digunakan dalam bahasa sehari hari Indonesia, bahasa itu ada dalam kamus hukum Pidana, sejak awal memang Buni Yani sudah mempengaruhi publik bahwa Ahok melakukan sebuah Penistaan, dimana dia terjebak dalam pasal pidana.

Disini kemudian ribuan kekuatan dimainkan dalam politik unjuk rasa di jalanan dengan taruhan tingkat kepemilihan Ahok menurun bahkan anjlok dibawah 30%. Presiden Jokowi sampai hari ini masih melakukan pengucilan komunikasi terhadap SBY, sebagai kekuatan politik yang cukup besar SBY harus menjelaskan posisinya kenapa mereka tidak diundang sama sekali oleh Presiden Jokowi, kalau memang ternyata Jokowi sudah membaca laporan intelijen bahwa ada peran besar SBY dalam demo 411 dan 212, dan kemudian dibaca baik baik narasi SBY yang punya karakter selalu berbalik antara ucapan dan fakta, bahwa SBY menakuti akan ada martir dalam peristiwa ini, ternyata memang benar besok ada martir dalam peristiwa ini, SBY harus bertanggung jawab terhadap demo 411 dan 212. Dan Kekuatan partai politik pendukung Jokowi serta Presiden sendiri harus berdiri lalu mengumumkan “Siapa Pemain Sesungguhnya Dalam Demo 411 dan 212” yang memiliki tujuan tujuan politik berupa MAKAR terhadap pemerintahan yang sah dibawah Presiden Jokowi..

Bagaimana Pendapat Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*